Risiko Bencana dan Kekuatan Lokal

Tanggal 22-25 October 2012, Yogyakarta terpilih menjadi tuan rumah onferensi Tingkat Menteri se-Asia untuk Pengurangan Risiko Bencana yang kelima (Fifth Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction-AMCDRR). Tema yang diangkat tahun ini adalah penguatan kapasitas lokal untuk pengurangan bencana serta membahas dampak kerugian bencana di seluruh wilayah Asia. Yogyakarta dipilih karena dianggap tangguh dan berhasil menanggulangi kejadian bencana  Gempa Bumi tahun 2006 serta Letusan Merapi 2010.

Pengurangan resiko menjadi agenda penting dunia dan terus menerus diarusutamakan di setiap negara karena jumlah bencana serta akibatnya tidak menurun tetapi semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Dari total 302 bencana besar di dunia, 137 bencana terjadi di Asia dan khussu di Asia, kerugian ekonomi yang diderita akibat bencana melebihi 294 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari total estimasi 366 miliar dolar AS. Isu pengurangan resiko juga telah menjadi kesepakatan dunia seperti yang dituangkan dalam Kerangka Aksi Hyogo atau Hyogo Framework for Action (2005-2015) yang mempunyai semangat “Membangun Ketangguhan Bangsa-Bangsa dan Komunitas-Komunitas dalam Kebencanaan”

penguatan kapasitas lokal ini menjadi penting karena masyarakat tidak hanya dapat mengandalkan negara atau dalam hal ini pemerintah pusat untuk menanggulangi berbagai bencana yang dialami baik skala besar maupun kecil

Di Indonesia pengurangan resiko bencana (PRB) telah diatuangkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.  PRB diartikan sebagai upaya untuk mengurangi potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu. Kerugian tersebutdapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. PRB juga sering diartikansebagai efektifitas pelaksanaan upaya mitigasi dalam mengurangi resiko dari bencana oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui pendekatan struktural dan non struktural.

Pendekatan struktural dapat dilakukan seperti pembangunan infrastuktur untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana, seperti misalnya pembangunan dam, tanggul, dan kanal untuk mengantisipasi banjir, penguatan atap untuk mengantisipasi badai dan topan, pendirian bangunan yang tahan gempa. Sementara pendekatannon struktural melalui upaya seperti relokasipenduduk ke daerah yang lebih aman, regulasiatau aturan seperti tata ruang,serta penguatan kelembagaan  pendidikan publik, peningkatan partisipasi masyarakat dan lain sebagainya(Godschalk dkk: 2005, Schwab dkk:2005).

Jika dikaitkan dengan tema AMCDRR ke 5, penguatan kapasitas lokal ini menjadi penting karena masyarakat tidak hanya dapat mengandalkan negara atau dalam hal ini pemerintah pusat untuk menanggulangi berbagai bencana yang dialami baik skala besar maupun kecil.  Masyarakat seringkali harus melakukannya sendiri.  Oleh karena itu untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana perlu dilakukan dengan berbagai strategi: pertama, meningkatkan pengetahuan dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi, ancaman dan resiko kerugian bencana baik jiwa maupun material. Upaya ini dapat dilakukan melalui sekolah, kelompok atau komunitas yang ada di masyarakat seperti kelompok pengajian, komunitas ibu-ibu dan remaja, kelompok profesi seperti arsitek, developer, paramedic, hingga pekerja di lapangan seperti tukang bangunan, dan para penyuluh di komunitas.

Peningkatan kapasitas ini penting untuk menekan sesedikit mungkin kerugian jiwa dan material serta terganggunya kegiatan ekonomi dan sosial saat bencana terjadi

 

Kedua, peningkatan kapasitas untuk manajemen pengurangan resiko dan kerentanan bencana yang mencakup manajemen sumberdaya alam dan lingkungan, penghidupan maupun pembangunan yang berkelanjutan, perlindungan sosial dan lain sebagainya. Peningkatan kapasitas ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan best practices atau contoh serta pembelajaran terbaik dari praktek-praktek pengurangan resiko bencana yang dilakukan komunitas di daerah atau Negara lain. Peningkatan kapasitas ini penting untuk menekan sesedikit mungkin kerugian jiwa dan material serta terganggunya kegiatan ekonomi dan sosial saat bencana terjadi.

 

 Ketiga, penguatan kapasitas lokal juga dapat dilakukan secara kelembagaan. Upaya ini diantaranya adalah melakukan peningkatan kapasitas pemerintah lokal secara kelembagaan berupa pelatihan pengkajian resiko, perancanan komunikasi hasil kajian serta peningktana sumberdaya lainnya.  Di samping pemerintah lokal, masyarakat atau komunitas juga dapat ditingkatkan kapasitas kelembagaan untuk bekerja bersama-sama dalam melihat resiko, meningktkan kesiapsiagaan serta memiliki ketrampilan untuk melakukan kegiatan tangggap darurat serta rehabilitasi jika bencana terjadi. Jika upaya ini dilakukan, ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana sebagai tujuan dari pengurangan resiko dapat terpenuhi.

Penulis adalah Dosen Fisipol, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah . Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat tgl 27 Oktober 2012