Islam dan Perubahan Iklim

Tanggal 3-14 Desember 2007, yang akan datang di Nusa Dua, Bali akan diselenggarakan KTT Perubahan Iklim dan Pemanasan Global. KTT Global Warming rencananya akan melibatkan sekitar 15.000 delegasi dari 180 negara anggota PBB, dengan sekitar 900 wartawan dari 225 media dalam dan luar negeri. Agenda utama yang dibicarakan dalam KTT tersebut adalah bagaimana upaya mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Beberapa isu penting yang akan dibahas seperti kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto tetang pengurangan emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya.

Para ilmuwan khususnya ahli lingkungan sepakat bahwa pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim merupakan fenomena alam menakutkan bagi bumi ini Jika pemasanan bumi ini tidak dikurangi, tidak mustahil kerusakan dan kehancuran bumi akan segera menjadi kenyataan. Kekawatiran tersebut menjadi perhatian utama, hingga Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada Al-Gore, mantan wakil presiden AS yang beberapa tahun terakhir sangat aktif mengkampanyekan isu pemanasan global dan dampaknya terhadap manusia dan ekosistem.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengindikasikan, antara tahun 1970 hingga 2004, telah terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2 derajat celcius hingga 1 derajat celcius. Kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5 derajat celcius hingga 2,5 derajat celcius, di samping menyebabkan udara makin panas, juga akan menyebabkan kepunahan 20 persen hingga 30 persen spesies tanaman dan hewan. Suhu yang panas juga mempengaruhi produktivitas pertanian di daerah tropis seperti Asia dan Afrika. Diperkirakan stok pangan akan mengalami penurunan dan hal ini akan meningkatkan risiko bencana kelaparan. Dampak lain adalah air laut akan naik, dan banjir akan terjadi di mana-mana. Di samping itu kekuatan badai serta topan akan meningkat dan menghancurkan daerah pesisir.

Umat Islam dan kerusakan lingkungan

Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, pertemuan tersebut dapat menjadi refleksi apakah yang dapat dilakukan untuk mengurangi serta mempersiapkan berbagai kemungkinan akibat dampak yang ditimbulkan. Bagi Indonesia, hutan menjadi faktor penting untuk dijadikan landasan karena hutan tropislah yang berfungsi menyerap karbon dan mengurangi jumlah karbon yang di lepas di udara akibat kebakaran hutan.  Namun justru hutan di Indonesia mengalami banyak tekanan. Sampai dengan tahun 2005, pemerintah mengklaim Indonesia memiliki kawasan hutan seluas 126,8 juta hektar namun lahan kritis di hutan mencapai 59,17 juta hektar dan lahan kritis diluar kawasan hutan mencapai 41,47 juta hektar. Kerusakan hutan tiap tahunnya tidak berkurang  tapi makin bertambah.

Pada tahun 1950 sampai dengan 1985 angka kerusakan mencapai 32,9 juta hektar atau setara dengan 942 ribu hektar setiap tahun. Penguasaan 70 persen pasar plywood dunia pada tahun delapan puluhan juga memicu kehilangan hutan seluas 45,6 juta juta hektar atau dengan rata-rata deforestasi 5,7 juta hektar hutan pertahun (1985 – 1993). Sementara tiap tahun kita hanya mampu merehabilitasi hutan seluas 70 ribu hektar. Dengan perhitungan yang kasar, dan tanpa adanya perubahan tingkahlaku, maka tahun 2023, hutan di Indonesia tinggal 19 juta hektar saja. (Emmy Hafild: 1999). Sementara itu dengan jumlah penduduk mencapai 219,9 juta jiwa , sekitar 48,8 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di dalam dan sekitar hutan (CIFOR, 2000).

Oleh karena itu pertemuan tingkat dunia itu dapat dijadikan forum untuk mendesak negara maju untuk mendukung pendanaan reboisasi dan penghutanan kembali, karena negara maju juga berkontibusi besar dalam melepaskan karbon. Sementara bagi umat Islam disamping mendukung tuntutan terhadap negara maju, yang lebih penting adalah bagaimana melakukan refleksi kembali untuk secara teologis melakukan rekayasa lingkungan.  Dalam buku Islamic Environmental System Engineering karangan WA Husaini (1980) menyarankan rekayasa lingkungan berdasarkan konsepsi syari’ah seperti istishlah (kepentingan umum), istihsan (kebaikan), dan khilafah (perwakilan), adl (keadilan), iqtishad (moderasi), ihya (reklamasi tanah), harim (kawasan konservasi) yang perlu dikembangkan dalam masyarakat Islam. Rekayasa lingkungan hidup menuntut perhatian khusus pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, dipenuhinya hak-hak habitat alam serta pentingnya pembangunan berkelanjutan.

Dalam Islam, manusia diberi tanggung jawab penuh untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam : “…Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu….(QS. 2:29). “…..Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya….(QS. 11:61). Islam mensaratkan adanya lima criteria yang perlu diperhatikan dalam mengelola sumberdaya. Pertama, memberi tempat yang wajar kepada sesamanya dan juga kepada makhluk lain (QS. 17:20). Kedua, memelihara keseimbangan ukuran (hukum alam) yang telah ditentukan oleh Allah (QS. 15:19). Dalam konteks hutan jumlah hutan untuk menyangga Indonesia dan menyangga dunia perlu dipertimbangkan. Ketiga, menggunakan akal (ilmu yang bermanfaat) dan rasa (keindahan dan seni) dengan tujuan membawa manusia mensyukuri dan mengagumi nikmat Allah. Keempat, tidak boleh berlebih-lebihan (QS. 7:31, 6:141). Kelima, selalu bersyukur, bertaqwa dan mengambil hikmah (QS. 30:46, 42:33). Ayat-ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa manusia diciptakan Allah untuk menjaga, mengelola atau memanfaatkan dan memakmurkan bumi dengan beragam kekayaan sumberdaya alam yang ada tanpa melakukan eksploitasi atau perusakan.

Islam telah mengingatkan akan perilaku manusia yang menyalahgunakan sumberdaya alam (QS. 22:18). Hal in terbukti bahwa bencana alam yang ada merupakan akibat dari perilaku manusia yang sudah melampui batas dalam menggunakan sumberdaya alam sehingga keseimbangan alam mulai terganggu (QS. 30:41). Peringatan ini tentunya tidak dipahami secara dogmatif dan normatif saja, tetapi bagaimana “peringatan” ini menjadi dasar untuk melakukan aksi pencegahan, penyelamatan serta perlindungan secara tepat. Oleh karena itu, menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran spiritual atau agama akan pentingnya posisi manusia dalam memelihara dan mengelola sumberdaya alam demi kepentingan manusia sendiri dapat dijadikan visi umat islam Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global.

Penulis adalah Dosen Fisipol, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah .