Siaga Darurat Bencana

Hingga bulan maret 2013 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melalui Deputi Bidang Penanganan Darurat, menyatakan bahwa seluruh wilayah di Indonesia ditetapkan berstatus siaga darurat bencana. Penetapan ini didasarkan pada data Badan Meteorologi Dan Geofisika (BMG) yang menyatakan cuaca hingga maret cenderung ekstrim sehingga potensi terjadinya bencana alam cukup tinggi.

Apakah sebetulnya makna status siaga darurat bencana? Mengapa kita harus siaga? Dan bagaiman bentuk siaga darurat bencana?

Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini BNPB, untuk jangka waktu tertentu atas rekomendasi badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana termasuk dalam hal ini BMG. Hasil kajian BMG tentang cuaca ekstrim dapat dipakai untuk memberi informasi tentang adanya ancaman bencana diseluruh indonesia. Ancaman bencana pada saat ini adalah kejadian cuaca ekstrim yang bisa menimbulkan bencana seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, dan gelombang tinggi hingga badai tropis. Di DIY dan Jawa Tengah, banjir telah melanda beberapa wilayah diantaranya Klaten yang 5 desanya terendam banjir (12/2), sementara di Kali Gendol Cangkringan, Sleman, banjir lahar dingin mencapa 4 meter, menewaskan satu orang dan menenggelamkan truk pasir dan alat berat (12/2).

Pernyataan siaga darurat itu penting karena menjadi bagian dari upaya antisipasi seperti yang dijelaskan dalam UU No. 24 Tahun 2007 bahwa kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Tindakan-tindakan tersebut memungkinkan pemerintah, organisasi, masyarakat, dan individu mampu menanggapi situasi secara tepat jika cuaca ekstrim terjadi di daerahnya.

Di antaranya melalui: pertama, pengetahuan dan sikap terhadap resiko bencana. Kedua, pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini. Ketiga, penyediaan dan penerapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar. Keempat, penorganisasian, penyuluhan, pelatihan, gladi tentang mekanisme tanggap darurat.

Tidak bisa dilupakan adalah penyiapan lokasi evakuasi dan rencana evakuasi. Pemerintah daerah khususnya perlu menyiapakan lokasi evakuasi jika bencana akibat cuaca ekstrim terjadi. Kejelasan tempat berkumpul, transportasi untuk berpindah ke lokasi yang aman atau ketempat pengungsian sementara jika keadaan darurat terjadi perlu terus disampaikan ke masyarakat terutama yang paling rentan.

Semua akan berjalan jika ada penyusunan data yang akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur. Terjadinya sumber-sumber informasi untuk peringatan bencana baik sumber resmi pemerintah maupun sumber tradisional atau lokal penting. Namun informasi yang banyak perlu didukung dengan pemutakhiran prosedur sehingga tidak terjadi kesampingan saluran nforamsi tentang situasi yang terjadi.

Apabila berbagai langkah kesiapsiagaan ini dilakukan semua pihak, kemungkinan terjadinya bencana dapat diantisipasi sehingga dapat menghindari atau mengurangi korban jiwa, kerugian harta benda serta berubahnya tata kehidupan masyarakat.

(penulis adalah pakar studi bencana UMY dan wakil ketua Muhammadiyah Disaster Management Center)

Dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat , Sabtu 16 Feb 2013