Review Film : THE WAVE

Film drama yang dialami sebuah keluarga ini berlatar belakang sebuah sistem perlindungan masyarakat sipil yang dibangun oleh pemerintah setempat untuk melindungi warga dan wisatawan di obyek wisata yang disebut Geirager, sebuah desa di bagian barat Norwegia. Geiranger sendiri adalah sebuah obyek wisata favorit para wisatawan karena keindahan alamnya, disebut oleh panduan wisata tersohor Lonely Planet sebagai destinasi wisata terbaik di Skandinavia. Pada tahun 2005 keindahan lokasi dengan tubuh air menyerupai danau (merupakan hulu sungai besar) yang dikelilingi tebing – tebing batu dengan kelerengan yang sangat curam itu masuk menjadi UNESCO World Heritage.

 

Kisah dimulai ketika sang bapak, Kristian (diperankan oleh Kristoffer Joner , seorang aktor dan juga sutradara berkebangsaan Norwegia) sedang dalam proses perpindahan pekerjaan dari sebuah pusat pemantauan potensi longsor di perbukitan Geirager tersebut untuk berpindah ke kota lain. Proses pengunduran diri Kristian tidak berjalan lancar, karena ternyata secara emosional masih sangat terkait dengan profesinya. Bahkan di hari perpisahannya, Kristian masih memiliki firasat akan terjadi sesuatu pada tebing – tebing yang selama ini dia dan teman – teman seprofesinya pantau. Tersaji kepada kita bagaimana pemerintah Norwegia menerapkan sistem pemantauan dengan terknologi seperti alat pemantau pergerakan batuan, alat pendeteksi aliran air tanah dan juga perangkat buat petugas yang piket memeriksa rekahan – rekahan yang sudah dipasangi sensor, termasuk dengan helikopter. Tersedia juga perangkat kamera kontrol, dan perangkat visualisasi simulasi bila longsor tebing batu itu terjadi, masuknya tubuh tebing batu ke badan air dan menyebabkan tsunami.

Tsunami dalam kasus di Geirager ini bukanlah seperti Tsunami yang terjadi Desember 2004 di Aceh yang dipicu dari gempa bumi di dasar laut, namun Tsunami lebih mirip terjadi pada letusan Krakatau 1883, dimana terjadi longsor di tubuh gunung, masuk ke badan air dan menimbulkan gelombang sangat tinggi yang menyapu permukinan di pantai. Bedanya, tsunami pada Krakatau terjadi karena proses vulkanisme dan di laut (selat Sunda), pada Geirager terjadi terpicu bukan karena vulkanisme dan terjadi di badan air yang terdapat di pegunungan.
Bagi Kristian, mungkin inilah yang disebut bahwa sebuah profesi yang sudah bertahun – tahun dilakukan dengan dedikasi dan dipadukan dengan teknologi dan referensi yang kuat, maka naluri profesionalnya terpanggil. Tergambar bagaimana perdebatan para pemantau berdasarkan kecurigaan Kristian terhadap potensi longsornya tebing batu, setelah ada data anomali pergerakan aliran air yang mengisi rongga batuan, yang dimungkinkan terlah terbentuk retakan baru atau melebarnya retakan. Walaupun secara ilmiah dimenangnkan Kristian, namun proses pengambilan keputusan otoritas kapan harus memberlakukan “Kode Kuning” yang berarti siap –siap, atau harus langsung “Kode Merah” yang berarti harus evakuasi menjadi tidak mudah, karena kepentingan kunjungan turis yang baru saja mulai. Akhirnya kecurigaan Kristian terbukti dan drama proses penyelamatan terjadi hingga akhir film.

Proses penyelamatan yang dilakukan oleh istri Kristian, Idun (diperankan oleh Ane Dahl Torp, aktris Norwegia yang cukup banyak berperan di Film layar lebar maupun televisi) sebagai seorang petugas hotel untuk menyelamatkan tamu – tamu hotelnya dari ancaman tsunami, dan juga bagaimana ribetnya proses penyelamatan diri ketika harus bertemu sifat – sifat asli manusia, ada yang egois, ada yang ceroboh, ada yang bertindak diluar prosedur dan juga ada yang peragu dalam pengambilan keputusan. Itulah kerentanan – kerentanan mendasar secara individu yang bisa berakibat fatal. Sejak awal hingga akhir film, penonton disuguhi penokohan – penokohan dengan karakter-karekter yang tersaji cukup kuat. Seperti penokohan Idun sebagai perempuan karir yang tegas dan bahkan menjadi sandaran sang suami dalam menggambil keputusan – keputusan rumit, penokohan Julia (putri Kritian, diperakan akktris cilik Edith Haagenrud-Sande) yang menggemaskan, atau penokohan Sodre ( putra Kristian, diperankan Jonas Hoff Oftebro) sebagai remaja yang memiliki masalah komunikasi dengan ayahnya. 
Memang kita tidak akan menemukan adegan – adegan wah seperti film – film berlatar kejadian bencana seperti film – film Hollywood. Namun seperti layaknya film – film skandinavia atau perancis, film yang diputar di Indonesia melalui jaringan Blitz dan Cinemax ini menawarkan kisah yang mengajak berfikir penonton, dengan informasi tentang sistem penanggulangan bencana dari penerapan mitigasi hingga manajemen darurat tanpa menggurui penonton.

 

Pembelajaran Penanggulangan Bencana
Pembuatan film ini menarik, mengingat kawasan pegunungan Geirager daerah yang benar – benar pernah mengalami Tsunami. Tercatat dalam sejarah sebenarnya, pernah terjadi Tsunami di lokasi ini pada 7 April 1934 yang menyebabkan 40 orang meninggal, dan pada 1905 yang menyebabkan 60 orang meninggal. Sehingga pembuatan film ini bisa menjadi pengingat bahwa dibalik keindahannya, ada potensi bencana yang sebenarnya bisa dikurangi risikonya dengan berbagai pendekatan. Untuk di Indonesia mirip seperti Erupsi Gunung – Gunung Api, selain menjadi lokasi dengan pemandangan yang menakjubkan, tersimpan juga potensi bencana yang bisa dihindari.

Bagi penonton Indonesia, Film yang mendapat sambutan luas di Norwegia ini, bisa menjadi bahan refleksi bagaimana penerapan perlindungan warga sipil yang ada saat ini untuk menghadapi bencana, bagaimana prosedur – prosedur tetap apakah sudah dibuat dan diketahui masyarakat apa belum, terutama di lokasi wisata yang membutuhkan pendekatan yang kompleks. Bahkan dalam film ini, bisa menjadi bahan untuk merefleksikan bagaimana bentuk respon spontan warga di “kawasan rawan bencana” sebagai first responder bila peringatan bahaya disampaikan. Selain itu, disajikan dalam drama yang apik, film ini juga bisa menjadi cermin untuk kita tentang termasuk kemampuan personal seperti melakukan prosedur Bantuan Hidup Dasar (BHD) ketika menemukan korban bencana sebelum profesional hadir.

Akhirnya, kesiapan sebuah komunitas menghadapi potensi bencana tidak bisa disandarkan pada satu pelaku saja, atau satu aspek sistem penanggulangan bencana saja, namun keterlibatan setiap pelaku menjadi sangat penting, dan juga keterkaitan semua aspek dalam manajemen risiko bencana. Satu lagi yang menjadi penting, setelah ditopang dengan berbagai upaya mitigasi, manajemen informasi, prosedur tetap dan komunitas terlatih, upaya penyelamatan sangat tergantung juga dari kemampuan para pemimpin pemangku kepentingan untuk menerjemahkan dalam proses kepemimpinan dan dedikasinya sebagai pemimpin.

Referensi :
http://www.ngi.no/…/…/Monitoring-and-modelling-of-the-Aknes/
https://en.wikipedia.org/wiki/Geirangerfjord
https://en.wikipedia.org/wiki/Geiranger
http://www.imdb.com/title/tt3616916/