Catatan Perjalanan : Disaat Normalpun Korban Bencana di Pulau Seram Kekurangan Pelayanan Kesehatan

dr Era Catur Prasetya bersama Karsim (berompi biru) , perawat RS Muh Lamongan

Ambon – Relawan yang juga Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur, dr Era Catur Prasetya, mengungkapkan kisah perjalanan melayani korban banjir di Dusun Ely Jaya Desa Luhu Kecamatan Huamual Seram Bagian Barat pada hari selasa (7/8). Dokter muda ini menyisir P Seram bersama Korbid Tanggap Darurat MDMC, Budi Santosa,  Karsim Ners -  perawat dari RS Muh Lamongan, Riva’ Tuhuleley - seorang relawan asal Maluku yang sempat bertugas pada saat Gempa Sumatera Barat dan tiga orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

“Setelah sholat shubuh kami meluncur ke pelabuhan Hila yang terletak di jazirah Leihitu atau bagian utara pulau Ambon, untuk kemudian menyeberang dengan perahu kecil ke Pulau Seram bagian barat” demikian dr Catur mengawali kisah. “Suasana dari mulai Hitu, Wakal, sampai Hila mirip sekali dengan  Jawa, kanan kirinya masjid” kisahnya kemudian.

Setelah satu jam perjalanan yang sempat diselinggi dengan bocornya ban mobil, sampailah tim kecil ini di pelabuhan kecil bernama Hila . “ Alhamdulillah bulan ini angin muson timur berhembus,  sehingga ombak tenang” kisah dr Catur.  

Perjalanan tim dilanjutkan dengan perahu kecil bermotor lebih kurang dua jam untuk sampai ke dusun pertama.  “Awalnya saya pikir kami akan naik kapal besar atau minimal feri, ternyata dengan kapal mungil meluncurlah kami ke Eli Jaya dusun pertama dari empat  dusun yg akan kami assessment dan  pelayanan kesehatan” kisahnya. “Itu tanpa pelampung he he he “ lanjutnya diringi tawa khas dokter muda yang bertugas di RS Muhammadiyah Lamongan ini.

Selain melanda 5 kecamatan di Kota Ambon,  banjir juga menimpa beberapa wilayah di Kecmatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat. Desa yang terlanda antara lain : Desa Luhu, Dusun Amaholu Losy, Mangge-Mangge, Nasiri, Limboro dan Dusun Saluku. Diberitakan juga di dusun Ely Jaya, masih di kecamatan yang sama, banjir telah menrenggut nyawa  Kepala Dusun, La Sarama dan imam masjid setempat atas nama La Edy

Pelayanan di Ely Jaya

Kerusakan akibat banjir di dusun Ely Jaya (foto : Riva'i Tuhuleley)

Seperti halnya dusun - dusun  lain di pulau Seram, Eli Jaya terletak persis di pesisir pantai, dibatasi lautan di sebelah luar dan dikelilingi perbukitan disebelah dalam. Dusun Ely Jaya berpenduduk lebih kurang 94 KK,  yang semuanya beragama Islam. Dusun ini termasuk dusun termiskin dari dusun-dusun yang kemudian didatangi oleh tim pada hari itu juga.

Menurut dokter Catur penduduk berusia dewasa yang periksa rata- rata menderita anemia, anak-anaknya perutnya besar - besar, khas penderita cacingan. Sementara lansianya banyak yang sudah tidak terurus.

“Sudah hampir tiga bulan tidak ada kunjungan pemeriksaan kesehatan di kampung ini, kata penduduk yang ada hanya kunjungan anggota dewan, mereka berfoto dan kemudian berangkat pergi lagi” kisah dr Catur.

“Sementara lingkungannya seperti tidak terurus, di tepi pantai kami juga menjumpai bangkai anjing tergeletak begitu saja” lanjutnya.

Di dusun tersebut, laki-laki bekerja sebagai nelayan, sedangkan perempuan bekerja di kebun-kebun cengkeh di atas bukit yang berada di sela-sela hutan. Curah hujan yang deras bulan ini menyebabkan banjir yang menyapu 23 rumah dikawasan ini. Seperti dinyatakan diatas, korban jiwa yang ditemukan meninggal tidak ada, tetapi kepala dusun dan khatib masjid dinyatakan hilang.

Di balai dusun  tim MDMC bekerjasama dengan dinas kesehatan provinsi Maluku mengadakan pengobatan masal, ada lebih kurang 100 pasien yang dilayani tim. Penyakit terbanyak  Myalgia (nyeri otot) dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan), ditemukan juga tiga kasus batuk darah yang butuh penanganan lebih lanjut seharusnya.

Di dekat dusun tersebut sebenarnya ada puskesmas . “Tapi saat ini hanya berupa bangunan diam yang terendam banjir dengan seorang perawat, tanpa pasien” kisahnya kemudian.

“Kami baru sampai kota ambon lagi pukul 21.00 WIT, dan dilanjut koordinasi hingga jam 04.00 pagi.  Karena ketiduran saya ketinggalan pesawat pulang ke Yogyakarta” demikian Budi Santosa ikut menambahkan kisah perjalanan di Pulau Seram tersebut. “Ombak lumayan membuat kami pusing, ketika perjalanan pulang melintas laut dari Seram menuju ambon” kata Riva’i Tuhuleley juga menambahkan.

Bersinergi dengan pemerintah daerah menjadi kode etik tim MDMC ketika turun dalam penanggulangan bencana. Langkah ini menjadi upaya kongkrit upaya MDMC untuk memperkuat pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Karena relawan bisa saja datang dan pergi, sementara pemerintah daerah bagaimanapun juga adalah instutusi yang terdekat di lokasi bencana bersama masayarakat setempat.

Tim kesehatan Muhammadiyah gelombang pertama yang dikoordinasikan oleh MDMC bertugas dari tanggal 5 hingga 14 Agustus 2012. Direncanakan tim kedua akan berangkat tanggal 13 agustus 2012. Sementara posko Muhammadiyah Maluku di kota Ambon yang digawangi MDMC Maluku bersama kader muda Muhammadiyah menyalurkan bantuan logistik, pakaian dan membantu membersihkan rumah yang terendam lumpur.

dr Era Catur bersama tim Dinas Kesehatan Provinsi Maluku (foto : Riva'i Tuhuleley)