| SMK Muh 1 dan SMP Muh 1 Padang Menempati Sekolah Tenda |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Wednesday, 28 October 2009 14:25 |
|
Padang – Siswa SMK Muhammadiyah 1 dan SMP Muhammadiyah 1 Padang yang kampusnya runtuh akibat gempa bumi 30 September 2009 yang lalu mulai Senin (12/10/2009) harus rela menempati sekolah tenda di lokasi sekitar 3 kilometer dari lokasi asal di Simpang Haru yaitu Lubuk Begalung. Menurut Amrizal Chan, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Padang, 946 siswa sekolahnya saat ini sebagian belajar di tenda-tenda yang didapat dari UNICEF dan Pemerintah Jepang yang membantu tenda untuk sekolah-sekolah. “Kami mendapatkan tenda dari UNICEF sebanyak 4 buah, dan 2 dari Jepang” terang Amrizal (15/10/2009). Sementara itu di lokasi yang berdekatan tampak tiga buah tenda dari Unicef yang dipakai oleh SMP Muhammadiyah 1 Padang yang sebelumnya bersama SMK Muhammadiyah 1 Padang dan SD Muhammadiyah Simpang Haru menempati satu kompleks amal usaha yang terangkai dengan Masjid Ukuwah Muhammadiyah yang saat ini sudah diratakan oleh alat berat. Menurut Armanusah, Kepala SMP Muhammadiyah 1 Padang, jumlah siswa yang harus diungsikan sebanyak 449 anak “Satu anak meninggal saat terjadinya geempa”terang Armanusah. Kebutuhan Sekolah Darurat Amrizal sempat menyatakan bahwa kendala yang paling terasa adalah panasnya udara kelas dibawah tenda akibat terik matahari selain sulitnya konsentrasi siswa karena penggunaan satu tenda untuk dua kelas yang berbeda. “Efektif sekolah hanya sampai jam sepuluh , setelah itu kami harus membujuk anak-anak agar tetap belajar di bawah tenda” kisah Amrizal. Namun kendala tersebut akan sedikit terkurangi dengan datangnya bantuan bangunan kelas darurat dari depdiknas yang berdiri di komplek yang sejatinya adalah kampus dua SMK Muhammadiyah yang memiliki enam konsentrasi kompetensi siswa yaitu otomotif, mesin, elektronika industri, listrik, teknik informatika dan mekanik sepeda motor. “Rencananya akan berdiri dua kelas darurat untuk SMK dan tiga kelas darurat untuk SMP Muhammadiyah” terangnya kemudian. “Namun dengan pembangunan kelas darurat ini tidak berarti kelas di tenda akan diakhiri, karena memang masih membutuhkan kelas di tenda mengingat masih kurangnya ruang kelas” lanjutnya kemudian. Kondisi tersebut juga tidak jauh beda dengan kondisi di SMP Muhammadiyah 1 di sampingnya. (Arif) |



















