Darmaina: “Kami di Lantai Tiga Sekolah, Saat Runtuh ke Lantai Dasar” PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 28 October 2009 14:26
Padang – Darmaina, guru SMP Muhammadiyah 1 Padang tanggal 30 September 2009 yang lalu sedang bertugas sebagai guru yang masuk sore. Sekolah yang berada di kompleks masjid Ukuwah Muhammadiyah Simpang Haru Padang Timur itu memang harus membagi jadwal masuk siswanya menjadi dua, kelas pagi dan kelas sore. Ini karena sekolah tersebut memiliki 450 siswa yang harus berbagi kompleks pendidikan dengan SD Muhammmadiyah Simpang Haru dan SMK Muhammadiyah 1 Padang.

Darmaina selepas mendampingi siswa-siswanya mengikuti jama’ah salat Ashar kembali ke kelas bersama siswa-siswa yang menjadi amanah sekolah tersebut di lantai 3 kompleks perguruan tersebut. “Kalau sore memang hanya SMP yang masuk, karena kami punya kelas pagi dan sore” terangnya. “Waktu itu ada sekitar tiga kelas yang berada di lantai 3” lanjutnya.

“Tiba-tiba bangunan bergoyang, meja sudah terbalik-balik, dan kami pada jatuh tertelungkup” kisahnya mengenang Gempa Bumi yang terjadi sore itu. “Saya sempat berdiri dan jatuh lagi, terus berdiri dan jatuh lagi….akhirnya saya berjalan merangkak” kisahnya kemudian.

“Yang mencengangkan, ketika saya membuka pintu kelas, kelas kami di lantai tiga sudah berada di lantai dasar, kami benar-benar tidak percaya” kisahnya. “Ada beberapa anak yang lari begitu ada goyangan gempa, ada yang meloncat dari lantai dua dan ada yang melorot melalui pipa air yang terpasang dari lantai tiga ke lantai satu” lanjutnya.

Darmaina mengenang kalau Gempa Bumi sore itu menyebabkan satu siswanya meninggal dunia karena tertimpa bangunan ketika berlari turun menyelamatkan diri. “Kami yang di dalam tiga kelas itu berjumlah sekitar seratusan lebih orang,dan kami merasakan bagaimana runtuhnya sekolah kami karena kami di dalamnya”lanjutnya. “Yang saya ingat saat itu debu reruntuhan bangunan sudah layaknya asap yang mengepul dimana-mana” kenangnya.

Saat ini anak-anak yang saat itu mengalami kejadian diatas belum semua masuk sekolah. “Mungkin masih trauma atau setidaknya berkabung mereka” terang Darmaina bersama Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 1 Padang Armanusah, Kamis (15/10/2009) di lokasi sekolah darurat SMP tersebut yang terpaksa dipindahkan dari Simpang Haru ke Lubug Begalung, lokasi Kampus dua SMK Muhammadiyah 1 Padang.(arif).